Cari Blog Ini

Makalah Instrumentasi BK

 Rombel A
Rombel B
 Instrumentasi dalam Bimbingan dan Konseling

1. Ernaya Amor Bhakti
2. Riska Apriyanti
3. Tri Handayanti

DOWNLOAD
Instrumentasi dalam Bimbingan dan Konseling

1. Yunila Sari
2. Linda Mutiara
3. A. Diansyah

Konsep Dasar Assessmen pada Manusia

1. Evi Firi Yeni
2. Agustia Linta Saputri
3. Nia Kurnia Faradila

DOWNLOAD
Konsep Dasar Assessmen pada Manusia

1.  Andri Firmansyah
2.  Isma Nurzeha
3.  Septi Hardianti

DOWNLOAD
Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1. Hawla Rizqiyah
2. Pebriana Wulansari
3.  Fiqih amalia

DOWNLOAD
Validitas dan Reliabilitas Instrumen

1.  M. Ali Arifin
2.  Uli Dwi Sapitri
3.  Ria Atika Sari

DOWNLOAD
Observasi

1.  Endar Mardiansyah      
2.  Riska Diyantara      
3.  Yanita Vanela      

Observasi

1.  Ratna Takarina
2.  Narulita Dwi Stevani
3.  Rini Khoirunisa

Skala Psikologis

1. Anggi Sarwo Edi
2. Rani Wijayanti
3. Eka Kurnia Susanti
4. Suseno Febriansyah

DOWNLOAD
Skala Psikologis

1. Ahmad Rifai
2. Desi Saputri
3. Selvi Jayanti


DOWNLOAD



















READ MORE

KKp Realita untuk Disiplin Siswa

I.     PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
     Seorang siswa dalam mengikuti belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku disekolahnya. Berbagai peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupa mengatur perilaku siswa disebut disiplin. Pemberian disiplin pada siswa bertujuan untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah.
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal memiliki tujuan yang sama dengan tujuan pendidikan nasional.
“Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”, (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, No.2 Tahun 1989), (Syafei, 2002 : 39)
     Untuk mencapai tujuan tersebut tidak selalu berjalan dengan lancar karena penyelenggaraan pendidikan bukan suatu yang sederhana tetapi bersifat kompleks. Banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pendidkan baik faktor dari peserta didik maupun dari pihak sekolah. Salah satu faktor yang berasal dari peserta didik yaitu disiplin belajar yang rendah, yakni perilaku siswa yang tidak disiplin dalam mematuhi peraturan-peraturan sekolah.
     Bantuk indisipliner siswa antara lain, membolos sekolah, sering terlambat datang kesekolah, tidak sopan terhadap guru, membuat gaduh didalam kelas, keluar kelas pada jam pelajaran. Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengaruh teman, bosan dan tidak senag terhadap pelajaran / guru bidang studi, malas, dan lain-lain. Tentu saja, semua itu membtuhukan upaya pencegahan dan penanggulanggannya.
     Perilaku indisiplin siswa yang sepeerti ini, bila dibiarkan akan membawa dampak yang kurang menguntungkan terhadap prestasi belajar maupun sikap mental para siswa, ketidakdisiplinan akan mengganggu pembelajaran sehingga berpengaruh terhadap kurang berkembangnya prestasi belajar siswa, disisi lain ketidak disiplinan akan menghasilkan manusia-manusia yang tidak mampu berlaku tertib sehingga tidak mampu menjadi masyarakat yang baik.
     Oleh karena itu, agar proses belajar mengajar  berjalan lancar salah satu upaya yaitu, dengan meningkatkan disiplin belajar pada peserta didik. Seperti yang dikemukakan oleh prayitno (1999 : 25) :
“Pengembangan manusia seutuhnya hendaknya mencapai pribadi- pribadi yang pendiriannya matang, dengan kemampuan sosial yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi, dan keimanan serta ketakwaan yang dalam proses pendidikan banyak dijumpai permasalahan yang dialami oleh anak-anak, remaja, dan pemuda yang menyangkut dimensi kemanusiaan mereka”.
     Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan dengan guru BK di SMA Negeri 1 Manyar pada tahun ajaran 2008-2009, bahwasanya sebanyak 15 % dari jumlah seluruh siswa  ± 1250 orang, melanggar tata tertib sekolah. Untuk lebih konkrit pelanggaran yang masih sering terjadi terutama masalah membolos, keterlambatan siswa dalam masuk kelas, dan seringnya siswa yang keluar pada jam pelajaran, membuat onar dikelas. Ada berbagai alasan yang dikemukakan oleh siswa yang tidak disiplin antara lain, diajak teman, tidak suka dengan guru bidang studi, malas, dan lain sebagainya. Lemahnya pengendalian diri pada individu / siswa menyababkan terbantuknya perilaku indisiplin siswa. Kebanyakan siswa yang tidak disiplin ini belum memahami akibat dari perilakunya sendiri.
     Penanganan terhadap masalah ini telah dilakukan setiap hari oleh guru BK, dengan berbagai cara antara lain, ketika jam pelajaran berlangsung setiap hari guru BK berkeliling sekolah untuk mencari siswa yang membolos dan keluar pada jam pelajaran. Jika menemukan siswa yang membolos atau keluar pada jam pelajaran berlangsung, maka guru BK akan memberikan sanksi dengan menyuruh siswa mengisi buku pelanggaran dan ditindak lanjuti dengan pemberian surat peringatan atau surat panggilan orang tua. Akan tetapi cara seperti itu, belum memberikan hasil yang memuaskan, buktinya setiap harinya masih ditemukan ± 5 orang siswa yang membolos dan berada diluar kelas pada jam pelajaran. Dan akibatnya prestasi belajar siswa menurun dan proses belajar siswa terganggu.
     Siswa yang sering keluar pada jam pelajaran, membolos dan terlambat masuk kelas termasuk siswa yang tidak disiplin dalam belajar. Dan siswa yang tidak disiplin ini membutuhkan pemahaman diri mereka agar mereka sadar dan bisa bertanggung jawab serta merubah perilakunya agar dapat disiplin dalam belajar. Maka dari itu perilaku tidak disiplin belajar ini membutuhkan intervensi secara intensif ataupun khusus.
     Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi masalah disiplin siswa disekolah melalui pelayanan bimbigan dengan cara-cara dan teknik bimbingan konseling yang bersifat tidak menghukum. Disinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling, untuk membantu siswa mengubah perilaku kurang disiplin belajar siswa. Karena pelayanan bimbingan dan konseling dapat mengatasi berbagai permasalahan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Permasalahan tersebut mencakup permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. Menurut Sukardi, (2003 : 55):
“Dalam bimbingan dan konseling terdapat layanan konseling kelompok dengan bidang sosial yang memungkinkan siswa memperoleh kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami melalui dinamika kelompok, yaitu masalah-masalah yang berkenaan dengan pemahaman dan pelaksanaan disiplin dan peraturan sekolah”.
     Konseling kelompok adalah salah satu upaya bantuan kepada peserta didik dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. Dalam konseling kolompok, klien dapat menggunakan interaksi kelompok untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan tertentu, untuk mempelajari atau menghilangkan sikap-sikap dan perilaku tertentu.
     Intervensi melalui konseling kelompok, dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan, salah satunya melalui pendekatan realita. Pendekatan realita adalah salah satu pendekatan konseling yang memfokuskan pada tingkah laku sekarang, (Corey, 2007 : 264). Konseling realita menyiratkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Menurut Glasser, konseling realita memusatkan pada pentingnya 3-R, yakni tanggung jawab klien (Responbility=R), norma dan nilai sosial yang dapat jadi milik individu melalui internalissai (Rights=R) dan kenyataan dunia dimana individu bertingkah laku (Reality=R).
      Melihat permasalahan yang ada di SMK Budi Utama Pringsewu, dimana setiap harinya masih terdapat siswa yang tidak disiplin dalam belajar, sehingga perilaku tidak disiplin siswa dalam belajar di SMK Negeri 1 Pringsewu merupakan permasalahan yang membutuhkan intervensi secara khusus. Maka muncul keinginan untuk melakukan penelitian untuk menguji keefektifan penerapan konseling kelompok realita untuk membantu meningkatkan disiplin belajar siswa pada siswa kelas X di SMK Budi Utama Pringsewu.

Jika ingin mendapatkan makalah lengkap....klik dibawah ini

DOWNLOAD

READ MORE

Kumpulan Makalah Bimbingan dan Konseling

1. Konseling Kelompok Teknik CBT (Cognitive Behaviour Therapy)




oleh (1) M. Andi Setiawan, S.Pd., (2) Agus Supriyanto, S.Pd., (3) Aldila Fitri R.N.M ,  S.Pd., dan (4) Sesya Dias Mumpuni, S.Pd.,  Download

(Password makalah ada di group  = https://www.facebook.com/groups/sangkonselor/)
READ MORE

Makalah Kesehatan Mental

Kumpulan Makalah (word dan PPT) Kesehatan Mental dari Rombel 2 (Semester 1) angkatan 2013 Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Negeri Semarang
Jika makalah diprotect, untuk passwordnya ada di Group FB Sang Konselor (Gratis)

Kelompok 1
Judul "Perspektif Kontemporer Perilaku Tidak Sehat"
a. Tara Gheasanti N.T
b. Sonia Marda
c. Anas Ainatun
d. Hanum Isnia
UNDUH

Kelompok 2
Judul "Metode-metode Penanganan Gangguan Kesehatan Mental"
a. Syarif Rizky Andromeda
b. Afridatuz Zahro
c. Putri Limaran Sari
UNDUH

Kelompok 3
Judul " Gangguan Lambat Belajar dan Kurang Motivasi Belajar"
a. Tegar Aji Pamungkas
b. Amanda Nazli Syahara
c. Indah Hidayati
UNDUH

Kelompok 4
Judul " Stress, Depresi dan Kecemasan"
a. Novi Wahyu Wulandari
b. Purnadeka Wijaya
c. Reza Rizki Gunawan
UNDUH

Kelompok 5
Judul "Gangguan-gangguan Anxietas"
a. Elsa Gita P.
b. Salia Uriepa
c. Dwi Riskiyani
UNDUH

Kelompok 6
Judul "Gangguan Disasosiatif dan Somatoform"
Oleh
a. Wayz Ibrahim
b. Christina Dyah Ayu P
c. Rosmayati
UNDUH

Kelompok 7
Judul "Gangguan Mood dan Bunuh Diri"
Oleh
a. Suharni
b. Nurul Huda
c. Devy Mukaromah
UNDUH

Kelompok 8
Judul "Gangguan Kepribadian"
Oleh
a. Maria Ulfa
b. Krisnowati
c. Rifana Rizki S
UNDUH

Kelompok 9
Judul "Gangguan Narkotik, Alkohol, Psikotropika dan Adiktif Lainnya (NAPZA"
Oleh
a. Slamet Ade R
b. Reza Tri Astuti
c. Imamma Anindita
UNDUH

Kelompok 10
Judul "Gangguan Makan, Obesitas dan Gangguan Tidur"
Oleh
a. Suryono Dwi Prabowo
b. Dian Wahyu Utami
c. Dwi Astuti
UNDUH

Kelompok 11
Judul "Gangguan Identitas Gender, Parafilia dan Disfungsi Seksual"
Oleh
a. Angga Nurlitasari H
b. Eko Mahesty Noorjanah
c. Apriliani Chrisnanda P
UNDUH

Kelompok 12
Judul "Skizofrenia dan Gangguan Psikotik"
Oleh
a. Dwi Laksmi Danisworo
b. Putri Deshea M.H
c. Saffaah At-Tarisul Islamy
UNDUH

Kelompok 13
Judul "Perilaku Abnormal pada Anak dan Remaja"
Oleh
a. Novi Rizani
b. Muhammad Zuhrul Anam
c. Eva Fauziah
UNDUH

Kelompok 14
Judul "Gangguan Kognirif dan Gangguan yang Berhubungan dengan Penuaan"
Oleh
a. Sugesti Yoan Ahmad Yani
b. Rivrina Sugiyanto
c. Siti Aisah
d. Mailin Nadyya
UNDUH
READ MORE

Ebook Bimbingan dan Konseling

Semoga bermanfaat, jika ada yang ingin ditanyakan silahkan pada kolom komentar.
Panduan Layanan Bimbingan dan Konseling bagi Konselor

passord RAR : isnidhanianto


----------------------------------------------------------------------------

Kurikulum Prodi Bimbingan dan Konseling untuk jenjang Strata 1 (versi ABKIN)
passord RAR : isnidhanianto

DOWNLOAD

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

CAREER DEVELOPMENT AND COUNSELING
Putting Theory and Research to Work

STEVEN D. BROWN & ROBERT W. LENT



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy

GERALD COREY


DOWNLOAD

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

READ MORE

Pengembangan Kesehatan Mental di Lingkungan Keluarga

Pengembangan Kesehatan Mental di Lingkungan Keluarga


Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya, merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Agama memberikan petunjuk tentang tugas dan fungsi orang tua dalam merawat dan mendidik anak, agar dalam hidupnya berada dalam jalan yang benar, sehingga terhindar dari malapetaka kehidupan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak (kandungan Al-Qur’an, Surat At-Tahrim:6) Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya bersabda “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhidullah), karena orang tuanyalah anak itu menjadi yahudi, nashrani atau majusi” (HR Bukhari & Muslim).

Berkenaan dengan peranan keluarga dalam mendidik anak, Imam Ghazali dalam Kitab Ikhtisar Ihyau Ulumuddin terjemahan Mochtar Rasjidi dan Mochtar Jahja (1996 : 189), mengemukakan bahwa anak merupakan amanat bagi orang tuanya, dia masih suci laksana permata, baik atau buruknya perkembangan anak, amat tergantung kepada baik atau buruknya pembiasaan yang diberikan kepadanya.

Keluarga merupakan aset yang sangat penting, individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan dengan keluarga. Begitu menurut fitrahnya, menurut budayanya, dan begitulah perintah Allah SWT. Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya, sebab kalau terjadi interaksi yang paling bermakna, paling berkenaan dengan nilai-nilai yang sangat mendasar dan sangat intim (Djawad Dahlan, dalam Jalaludin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, 1994 : 49).

Keluarga mempunyai peranan penting, karena dipandang sebagai sumber utama dalam proses sosialisasi (Uichol Kim & John W. Berry). Keluarga juga berfungsi sebagai transmitter budayam atau mediator sosial budaya anak (Hurlock, 1996 )

Keluarga juga dipandang sebagai instansi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insane (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya, dan pengembangan ras manusia. Jika mengaitkan peranan keluarga dalam upaya memennuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan, dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis, maupuan sosiopsikologisnya.

Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan itu diperoleh, apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik antara anggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaaan, akan tetapi menyangkut pemeliharaan, rasa tanggungjawab, pemahaman aspek, dan keinginan untuk menumbuhkembangkan anak yang dicintainya.

Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication, dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.

Mengkaji lebih jauh tentang fungsi keluarga ini, dapat dikemukakan bahwa secara sosiopsikologis, keluarga dapat berfungsi sebagai: (1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, (2) sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis, (3) sumber kasih sayang dan penerimaan, (4) model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik, (5) pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, (6) membantu anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan, (7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan, motorik, verbal, dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, (8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik diseklah maupun di masyarakat, (9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan (10) sumber persahabatan (teman bermain) anak, sampai cukup usia untuk mendapatkan teman diluar rumah, atau apabila persahabatan di luar rumah tidak memungkinkan.

Sedangkan dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga itu dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi biologis, ekonomus, edukasi, sosiolasi, proteksi, rekreasi, dan religius (M.I Soelaeman, 1978, Sudardja Adiwikarta, 1988; dan Melly SS Rifai, dalam Jalaluddin Rahmat dan Muhtar G, 1994).

Pengokohan penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga merupakan landasan fundamental bagi perkembangan kondisi atau tatanan masyarakat yang damai dan sejahtera. Namun sebaliknya, apabila terjadi pengikisan atau erosi nilai-nilai agama dalam keluarga, atau juga dalam masyarakat, maka akan timbul malapetaka kehidupan yang dapat menjungkirbalikkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Mentri Agama, Tarmizi Taher dalam ceramahnya yang berjudul Peace, Prosperity & Religious Harmony in The 21 Century : Indonesian Muslim Perspectives (Perdamaian, Kesejahteraan, dan Kerukunan Umat Beragama di Abad 21 : Perspektif Seorang Muslim Indonesia) di Georgetown AS : “Akibat disingkirkannya nilai agama dalam kehidupan modern, kita menyaksikan semakin meluasnya kepncangan sosial, seperti : merebaknya kemiskinan, dan gelandangan di kota-kota besar; mewabahnya pornografi dan prostitusi, HIV dan AIDS; meratanya penyalahgunaan obat bius, kejahatan terorganisasi, pecahnya rumah tangga hingga mencapai 67% di Negara-negara modern; kematian ribuan orang karena kelaparan di Afrika dan Asia di tengah melimpahnya barang konsumsi di sementara bagian belahan dunia utara”. (Suara Pembaharuan : 27 November 1997).

 Merupakan sebagian dari tulisan yang ada di Buku Judul : “Mental Hygiene : Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama”. Penerbit : …….. Tahun 2004. Oleh : Prof. Dr. Samsu Yusuf, M.Pd

Untuk mendapatkannya lanjutannya bisa request di kolom komentar dengan meninggalkan email saudara

atau

READ MORE